
East Java Economic (EJAVEC) Forum merupakan forum ilmiah yang ditujukan untuk memperkuat pengembangan perekonomian Jawa Timur melalui kajian terstruktur. Forum ini menjadi wahana diseminasi hasil riset dan dialog isu perekonomian terkini antara akademisi, peneliti, praktisi, dan masyarakat, guna merespons dinamika lokal, nasional, dan global. Untuk mendapatkan pemikiran-pemikiran kritis, EJAVEC secara kontinu menyelenggarakan kompetisi karya tulis ilmiah (call for paper) dengan kategori mahasiswa dan umum. Kajian-kajian yang dihasikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi kebijakan dan strategi. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkembangkan jiwa riset di kalangan akademisi, peneliti, praktisi, dan masyarakat serta memperkenalkan fungsi dan peran Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur. Lebih lanjut hasil dari EJAVEC Forum dapat memperkuat fungsi advisory Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur baik kepada Pemerintah Daerah maupun stakeholder lainnya. Kegiatan EJAVEC Forum juga merupakan bagian dari komunikasi asemen dan kebijakan Bank Indonesia kepada stakeholders. Lebih lanjut, untuk meningkatkan nilai tambah bagi peserta, pengumuman pemenang kegiatan ini akan dirangkai dengan kegiatan seminar ekonomi bertajuk EJAVEC Conference yang menghadirkan narasumber di bidangnya.
Minat peserta terhadap EJAVEC terus menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak pertama kali diadakan pada tahun 2014. EJAVEC diselenggarakan melalui kerja sama dengan Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Forum ini ditujukan bagi akademisi dari berbagai disiplin ilmu di Indonesia, dan pada penyelenggaraan perdana diikuti oleh 22 tim dari perguruan tinggi di Jawa Timur. Jumlah peserta EJAVEC terus meningkat, antara lain pada tahun 2015 (84 abstraksi), tahun 2016 (94 abstraksi dan 32 full paper), tahun 2017 (178 abstraksi dan 46 full paper), tahun 2018 (219 abstraksi dan 53 full paper), tahun 2019 (85 full paper), tahun 2020 (52 full paper), tahun 2021, (70 full paper), tahun 2022 (93 full paper), tahun 2023 (120 full paper), tahun 2024 (163 full paper), dan melonjak pada tahun 2025 sebanyak 376 full paper. Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan (S1, S2, dan S3) serta peneliti dari lembaga negara maupun swasta.
Perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2% dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3%. Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak. Pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diprakirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi AI yang juga meningkat. Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) berkurang dan disertai masih tingginya yield UST sejalan defisit fiskal AS yang masih besar. Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik. Perkembangan ini mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan mengakibatkan peningkatan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan. Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.
Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia tahun 2026 diprakirakan tetap solid, di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Hal ini seiring dengan kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2025 sebesar 5,33% (yoy) didukung peningkatan pada konsumsi rumah tangga, investasi, permintaan eksternal, serta tetap kuatnya belanja pemerintah. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu terus dipertahankan, antara lain melalui hilirisasi komoditas, penguatan struktur industri, meningkatkan daya saing, pengendalian inflasi, maupun melalui peningkatan kelembagaan ekonomi daerah.
Selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 dan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% (yoy) yang tercantum dalam Astacita, diperlukan langkah-langkah strategis di tingkat regional untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut. Untuk mencapai target pertumbuhan nasional, diperlukan penetapan sasaran di tingkat provinsi termasuk Jawa Timur. Oleh karena itu, guna mendukung target pertumbuhan ekonomi tersebut, telah disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025 – 2029 tahapan sebagai berikut, (i) pemantapan infrastruktur ekonomi untuk pengembangan sektor sektor strategis dan penguatan daya saing daerah pada tahun 2026; (ii) penguatan infrastruktur dan layanan dasar serta fondasi pembangunan pada tahun 2027; (iii) pemerataan akses pelayanan dasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh wilayah Jawa Timur pada tahun 2028; (iv) peningkatan daya saing daerah dan keberlanjutan pembangunan untuk menjamin kualitas hidup generasi mendatang.; (v) Tahun 2030 menekankan pada konsolidasi berbagai program pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030. Dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperlukan juga beberapa strategi utama a.I (i) akselerasi investasi daerah; (ii) penguatan sektor industri, (iii) pemberdayaan UMKM, (iv) optimalisasi keuangan daerah, (v) digitalisasi sistem pembayaran, serta (vi) orkestrasi pengendalian inflasi.
Pada tahun 2025, kinerja ekonomi Jawa Timur secara keseluruhan tahun mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi yang sebesar 5,33% (yoy), meningkat dari tahun 2024 yang tercatat sebesar 4,93% (yoy). Peningkatan ini ditopang oleh penguatan pada komponen konsumsi rumah tangga yang tecermin oleh: (i) penjualan eceran, terutama komponen makanan dan minuman, barang budaya dan rekreasi (perlengkapan sekolah), suku cadang dan aksesoris, barang sandang, serta bahan bakar; (ii) Pertumbuhan transaksi non-tunai. Lebih lanjut, pertumbuhan kinerja investasi seiring dengan (i) peningkatan impor barang modal; dan (ii) konsumsi semen yang lebih tinggi. Sementara, kenaikan pada permintaan ekspor sejalan dengan: (i) Peningkatan Prompt Manufacturing Index (PMI), dan (ii) Penjualan ekspor komoditas perhiasan, lemak minyak, produk kimia, kertas, ikan dan hasil laut yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi.
Dari sisi perkembangan harga, Inflasi tahunan Jawa Timur pada tahun 2025 turut terjaga pada rentang sasaran inflasi nasional 2,5 ± 1% (yoy), yaitu sebesar 2,93% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sebesar 1,51% (yoy). Terjaganya inflasi 2025 utamanya didukung oleh perbaikan cuaca yang mendukung produksi khususnya komoditas pertanian, dukungan program prioritas Pemerintah dalam rangka penguatan produktivitas produksi komoditas pangan strategis, terjaganya harga komoditas energi global termasuk harga pupuk dunia, serta sinergi erat TPIP-TPID dalam pengendalian inflasi.
Pada tahun 2026, kinerja perekonomian domestik diprakirakan akan menghadapi berbagai tantangan, khususnya tantangan yang berasal dari global. Meski begitu, prospek ekonomi domestik tahun 2026 diprakirakan menguat didukung dengan berbagai inisiatif program Pemerintah yang berfokus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Demikian pula halnya dengan kinerja perekonomian Jawa Timur yang diprakirakan menguat seiring beberapa faktor pendukung, antara lain keberlanjutan proyek pembangunan (proyek strategis nasional dan proyek Perpres No. 8 tahun 2019), perluasan digitalisasi dan local currency transaction, penguatan ekonomi negara mitra dagang utama Jawa Timur, serta program Pemerintah untuk mendorong swasembada pangan, hilirisasi, serta penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti green dan blue economy. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, akomodasi dan makanan minuman diprakirakan menjadi motor penggerak perbaikan perekonomian Jawa Timur tahun 2026. Terkait dengan stabilitas harga, inflasi IHK Nasional dan Jawa Timur pada tahun 2026 juga diprakirakan tetap terjaga di sasaran 2,5±1% (yoy), didukung oleh program prioritas Pemerintah yang berfokus pada penguatan produktivitas pangan serta sinergi erat TPIP-TPID.
Sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi terbesar kedua di Indonesia sebesar 14,28%, struktur perekonomian Jawa Timur ditopang oleh 3 (tiga) lapangan usaha terbesar, yaitu industri pengolahan (31,08%), perdagangan (18,68%), dan pertanian (10,7%). Ketiga sektor ini memiliki keterkaitan strategis yang membentuk fondasi ketahanan ekonomi regional: industri pengolahan yang menjadi tulang punggung PDRB memerlukan upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah untuk menjaga daya saing di tengah kompetisi global, sementara realisasi investasi PMA dan PMDN yang terus meningkat perlu diarahkan pada sektor bernilai tambah tinggi dan teknologi untuk mendorong transformasi struktural ekonomi. Sektor pertanian Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional terus menunjukkan peningkatan produktivitas. Pada tahun 2025, produksi gabah kering giling (GKG) Jawa Timur tercatat lebih dari 10,44 juta ton, meningkat 12,6% dibandingkan tahun 2024. Namun demikian, tantangan volatilitas harga, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan ketahanan pangan dan memerlukan pendekatan terintegrasi melalui digitalisasi pertanian serta penguatan sistem distribusi. Sementara itu, sektor perdagangan yang didukung ekspor senilai ±Rp1.600 triliun per tahun masih membutuhkan penguatan infrastruktur konektivitas, baik intra Jawa Timur maupun luar Provinsi guna mempercepat integrasi ekonomi regional, mengatasi disparitas antarwilayah, serta mengukuhkan peran Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Di tengah dinamika ekonomi global dan transformasi digital, Jawa Timur juga memerlukan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk mengurangi ketergantungan pada sektor konvensional sekaligus memperluas basis produktif yang inklusif dan berkelanjutan. Sektor pariwisata menunjukkan potensi besar sebagai sumber ekonomi baru dengan jumlah kunjungan wisatawan lebih dari 20 juta kunjungan pada tahun 2025, yang dapat ditingkatkan melalui pengembangan destinasi wisata berbasis alam dan budaya, ekonomi kreatif dan digital. Selain itu, untuk memperkuat multiplier effect terhadap lapangan kerja dan pendapatan masyarakat lokal, penguatan UMKM sebagai sektor yang menyerap lapangan kerja terbesar perlu terus diperkuat. Dengan mengintegrasikan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai katalis penciptaan nilai tambah baru serta penguatan ekosistem UMKM yang didukung oleh akses pembiayaan yang lebih inklusif, Jawa Timur dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya unggul namun juga inklusif dan berkelanjutan, memperkuat ketahanan dan kemandirian ekonomi Jawa Timur di tengah ketidakpastian global.
Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur menunjukkan tren penurunan dan tercatat sebesar 3,88% pada Agustus 2025, struktur pasar kerja masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kualitas dan formalitas tenaga kerja. Sebagian besar penyerapan tenaga kerja masih didominasi sektor informal, sementara proporsi pekerja formal hanya sekitar 38,27%, menunjukkan bahwa transformasi menuju struktur industri bernilai tambah tinggi belum optimal. Di sisi lain, peningkatan jumlah angkatan kerja yang mencapai sekitar 24,76 juta orang belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas pekerjaan, yang tercermin dari masih tingginya pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Selain itu, tingkat pengangguran berdasarkan pendidikan masih menunjukkan kurangnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat dengan pendidikan akademik lanjutan, di mana lulusan SMK dan perguruan tinggi justru memiliki tingkat pengangguran relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya. Dengan demikian, kesiapan pasar tenaga kerja tidak hanya menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, tetapi juga menjadi pendorong ketahanan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
EJAVEC 2026 akan difokuskan untuk mendapatkan rekomendasi yang implementatif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang unggul, inklusif, serta berkelanjutan. Mempertimbangkan dinamika ekonomi global serta perkembangan ekonomi Indonesia dan Jawa Timur, pelaksanaan EJAVEC 2026 akan lebih difokuskan pada peningkatan kualitas karya tulis antara lain dari sisi penajaman dan perluasan subtema untuk menggambarkan berbagai fenomena dan isu strategis di Jawa Timur sehingga didapatkan rekomendasi dan solusi yang kreatif dan implementatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jawa timur menuju ketahanan dan kemandirian nasional.